Zero by Seife, Charles, 9780140296471
Expand Image

Zero

The Biography of a Dangerous Idea

3.82 based on 1006 reviews.

Media:

Paperback Book

Our Price:

$5.98 (+ FREE shipping in the U.S.)  

List Price:

$15.00

You Save:

$9.02 (60.13 %)

Product Description

The Babylonians invented it, the Greeks banned it, the Hindus worshiped it, and the Church used it to fend off heretics. Today, zero lies at the heart of one of the biggest scientific controversies of all time, the quest for the theory of everything. Zero follows the number from its birth as an Eastern philosophical concept to its struggle for acceptance in Europe and its apotheosis as the mystery of the black hole.

Elegant, witty, and utterly fascinating, Zero takes us from Aristotle to superstring theory by way of Pythagoras, Descartes, the Kabbalists, and Einstein. It is a compelling look at the strangest number in the universe -- and one of the greatest paradoxes of human thought.

Product Details

  • Media: Paperback Book, 256 pages
  • Publisher: Penguin Books (Sep. 30th, 2000)
  • ISBN-10: 0140296476
  • ISBN-13: 9780140296471
  • Dimensions: 5.14 x 7.94 x 0.49 inches
  • Shipping Weight: 0.39 lbs

You might like these titles in Philosophy & Social Aspects

$9.98 NEW

The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief
Collins, Francis S.

One of the worlds most famous scientists--the head of the Human Genome Project...

$28.96 USED

Merchants of Doubt: How a Handful of Scientists Obscured the Truth on Issues from Tobacco Smoke to Global Warming
Conway, Erik / Oreskes, Naomi

The authors reveal the troubling story of how a loose-knit group of high-level...

$12.76 USED

Denialism: How Irrational Thinking Hinders Scientific Progress, Harms the Planet, and Threatens Our Lives
Specter, Michael

In this provocative and headline-making book, "New Yorker" staff writer Specter...

Customer Reviews

  • Book Rating 4 out of 5
    Read Reviews on Goodreads

    by ★ Δx Δp ≥ ½ ħ ★ from Bandung, Indonesia | Mar 27, 2009

    Ketika Leonardo da Pisa (kelak dikenal juga sebagai Fibonacci) memperkenalkan angka nol ke Eropa, dia banyak dihujat kaum terpelajar di sana. Alasannya, selain angka tersebut berasal dari negeri kaum kafir, Arab (sebenarnya awal mula sejarah angka nol berasal dari peradaban Hindu, tapi diadaptasi, 'dipermudah', dan 'diperluas' oleh Al-Khawarizmi), orang2 Eropa juga merasa terancam oleh kehadiran angka ini. Dengan hadirnya angka nol, bisa dikatakan sistem numeral Romawi yang terdisi dari abjad (misal I untuk 1, V untuk 5, dll) menjadi usang.

    Memang, untuk penggunaan luas, sistem bilangan Romawi menjadi ribet dan terlalu panjang. Karena, pada hakikatnya, bilangan Romawi nyaris tidak mengenal nilai tempat. Akibatnya, saat menuliskan angka dengan nilai bilangan besar, sangat sulit untuk menuliskan bilangan tersebut dengan angka Romawi. contohnya, bilangan 1888 jika ditulis dalam bilangan Romawi menjadi MDCCCLXXXVIII. Biar lebih dramatis lagi, coba tulis bilangan 14.792.483.388 dalam bilangan Romawi. Berapa baris yang dibutuhkan? :)

    Kedua, bilangan Romawi sama sekali tidak bisa digunakan untuk menyatakan bilangan desimal. Mungkin angka 1/2, 1/4, dsb (jumlahnya sedikit) masih bisa ditulis, tapi bagaimana jika menulis 11/17? berapa nilai eksaknya? Semua kesulitan itu disebabkan oleh satu hal, sistem bilangan Romawi tidak mengenal angka nol!

    Akhirnya, dengan mempertimbangkan hal tersebut, bangsa Eropa menerima penggunaan bilangan nol. Namun, seandainya mereka dapat meramal masa depan dan melihat efek angka nol bagi peradaban modern, niscaya mereka akan mati-matian mempertahankan sistem bilangan Romawi dan menolak kehadiran angka nol.

    Apa pasal? ternyata, angka nol tak selugu penampilannya. Meski bentuknya sangat bersahaja, cuma berbentuk lingkaran (0), bahkan di beberapa bahasa hanya cukup diwakili tanda titik (.), namun bisa dikatakan, dari angka nol inilah segala mula masalah sains, teknologi, hingga filsafat bermula. Bisa dikatakan, tanpa angka nol, peradaban manusia tidak mungkin memiliki wajah seperti dewasa ini. (komputer dan internet yang jauh lebih ajaib daripada Piramida Mesir tidak akan hadir tanpa angka nol!)

    Awal bab buku ini memberikan contoh bagaimana sebuah kapal selam canggih nan mahal nyaris tenggelam dan tak berdaya karena hal sepele, sistem pemrograman pengendali mesinnya ngadat karena dalam pemrograman komputasinya, ada satu kehadiran angka nol yang tidak pada tempatnya. Ajaib. Hanya perlu satu angka nol ntuk menjadikan kapal selam canggih dan mahal itu menjadi rongsokan besi karatan di dasar samudra. Yah, meski pada akhirnya kapal tersebut dapat diperbaiki, tapi itupun perlu usaha ekstra keras, terlambat sedikit saja, bisa fatal akibatnya.

    Di lain pihak, fisika (yang pada gilirannya nanti tanpa ampun menyeret dunia filsafat dalam gejolak arus membingungkan) hampir mengalami kematian karena terbentur masalah angka nol. Pada penghujung abad 19, Fisikawan terkenal Inggris, Lord Calvin (John Calvin, terkenal karena kajiannya di bidang kalor, namanya diabadikan menjadi nama satuan standar pengukur temperatur mutlak, derajat Kalvin) mengatakan bahwa ilmu Fisika sudah selesai. teori Mekanika Newton, teori gelombang elektromagnetik Maxwell, (dan secara tidak langsung dia menyebut teori termodinamika Calvin :-p) sudah dapat menjabarkan semua fenomena fisika yang ada. Apalagi yang perlu dipelajari dalam fisika?

    Namun, semua mimpi indah fisikawan itu mengalami benturan dahsyat yang nyaris membuat dunia fisika hancur lebur. Mimpi buruk pertama dimulai saat seorang fisikawan ternama, Khircoff, pada tahun 1859, menyelidiki tingkat intensitas radiasi emisi yang dipancarkan oleh benda hitam (Black Body). Namun, hasil radiasi emisi ini sungguh di luar harapan para fisikawan saat itu. Teori elektromagnetik Maxwell yang seharusnya bisa menjelaskan fenomena itu dengan mudah dan indah, menjadi sama sekali tidak berguna. Bahkan teori probabilitas Boltzman yang terkenal canggih pun menjadi kelihatan aus saat digunakan untuk menjelaskan fenomena ini. Fenomena baru ini secara langsung menjadi ancaman baru nan serius bagi fisika. Ucapan Calvin tinggal menjadi sekedar mimpi.

    Revolusi fisika pun dimulai. dengan rumus yang bisa dikatakan 'untung-untungan', Wilhelm Wien, menjelaskan fenomena ini dengan melalui hukumnya yang termasyhur, Wien's Law. Dikatakan untung-untungan karena dia membuat rumus baru yang tidak memiliki dasar fisika mantap menurut teori klasik, tetapi rumusnya cocok dengan data hasil pengamatan. Malangnya, Hukum Wien hanya cocok dengan percobaan jika percobaan tersebut dilakukan pada radiasi dengan frekuensi tinggi. Pada frekuensi rendah, rumus tersebut memberikan hasil yang jauh dari harapan. Bantuan kedua datang dari duet Rayleigh-Jeans. Dengan keberuntungan yang sama, mereka berhasil mencocokkan data percobaan dengan rumus 'sederhana'. Namun sekali lagi, mimpi buruk itu belum berakhir. Rayleigh-Jeans's Law, uniknya berkebalikan dengan Wien's Law, rumus ini hanya berlaku pada radiasi benda hitam yang memiliki frekuensi rendah! Jika teori ini diterapkan pada frekuensi tinggi, akan muncul yang namanya "ultraviolet catastrophe" atau "bencana ultraviolet". Arti fisik fenomena ini adalah, ini contoh sederhana saja, jika suatu benda memancarkan radiasi tingkat tinggi, maka radiasi yang dihasilkan akan menjadi tak terhingga yang pada akhirnya akan melampaui batas maksimum, tak penah berakhir. Artinya, jika kita memegang cangkir kopi panas, maka radiasi panas dari kopi akan terus memancar sampai tak terhingga sehingga tangan kita akan hangus terbakar sampai ke taraf atom! Padahal bumi tiap hari disinari matahari! jelas kehidupan akan musnah (bahkan tak akan pernah ada).

    Tapi, kita tidak mengalami kejadian mengerikan seperti itu kan? Kajian2 fisikawan berikutnya adalah upaya 'mengawinkan' kedua hukum tadi menjadi teori tunggal. Namun, sekeras apapun mereka berusaha, maka sekeras itu pula tamparan kegagalan yang mereka terima. Seperti terbang, semakin tinggi terbang ke angkasa, maka akan semakin sakit jua saat jatuh terhempas tanah.

    Namun, sebelum fisika hancur lebur, Sang Juru Selamat muncul. Fisikawan Jerman, Max Planck menawarkan solusi ajaib sekaligus mengerikan. Melalui sudut pandang yang sama sekali baru (bahkan bisa dikatakan bertentangan dengan teori mapan sebelumnya) Planck merumuskan bahwa problem radiasi benda bisa diselesaikan jika benda tersebut diamati dengan menganggap energi terpancar dari benda tersebut dapat 'dipotong-potong' ('potongannya' disebut kuanta). Gagasan ini sangat radikal dan bisa dikatakan terlepas dari teori mapan sebelumnya (bahkan bisa dikatakan bertentangan). Analogi dari kuanta ini adalah jika kita sedang menyetir mobil dan ingin menaikkan kecepatan dari 30 km/jam menjadi 40 km/jam, maka menurut teori kuantum, speedometer kita TIDAK AKAN PERNAH melewati angka 33 atau 38 km/jam! Dari angka 30, secara ajaib, langsung loncat ke angka 40! Ini karena energi dipancarkan secara paket-an, bukan secara perlahan dan kontinu. Teori klasik jelas tidak mengijinkan hal ini.

    Kelak teori ini dengan bantuan Einstein, Born, Heissenberg, Dirac, de Broglie, Schrodinger, Pauli, Bohr, dsb melahirkan cabang baru dalam fisika yang disebut fisika modern, teorinya dikenal sebagai Teori Kuantum. (dan sejak saat itu pula, apa2 yang ada embel-embel 'kuantum'-nya akan dianggap hebat, bahkan hingga saat ini, suatu seminar pelatihan akan tampak hebat jika diberi nama kuantum learning, dll) :-p

    Dengan pendekatan jeniusnya tadi, ajaibnya, fenomena radiasi benda hitam tadi dapat dijelaskan Planck dengan sempurna baik itu pada frekuensi tinggi maupun rendah. bahkan 'kesempurnaan'-nya terlalu menakutkan. Data hasil percobaan dan data hasil hitungan rumus Planck sama persis!!!

    Apa yang membuat teori Planck sedemikian sukses? Sebelumnya Planck sendiri mengalami keraguan dalam mempublikasikan teorinya. Bagaimana jika potongan tadi sedemikian kecilnya sehingga bisa dikatakan nol? teori sempurna tadi juga akan musnah! Namun, untuk menghindari hal itu, dan inilah kunci keberhasilannya yang gagal dilakukan para pendahulunya (dan juga apa hubungan cerita panjang lebar tadi dengan ripiyu buku ini :-p) adalah dia menghindari angka nol!!! Angka Nol adalah pemusnah! untuk itu dia memperkenalkan suatu konstanta yang menjadi batas minimal agar suatu benda 'berprilaku normal', tidak menimbulkan bencana ultraviolet, yang dikenal dengan nama Konstanta Planck (h), dinamakan demikian untuk menghormatinya.

    Berapa nilai h?

    h = 6.626 068 96(33) × 10^−34 = 0.0000000000000000000000000000000006260689633 Js !!! Sangat kecil tapi BUKAN NOL!!! karena konstanta super mini tadilah kita bisa aman saat meniup lilin ulang tahun atau berjemur sinar mentari pagi. Bersyukurlah pada hal-hal kecil dalam hidup ini.

    Belakangan teori kuantum berkembang lebih jauh lagi hingga 'membongkar' habis-habisan struktur atom. Hingga hari ini, milyaran dollar telah terkuras hanya demi 'mengupas' isi atom hingga bagian paling-paling-paling-paling-paling dasar. Bidang kajian Fisika Elementer dewasa ini sudah pada taraf 'tak dapat diungkapkan dengan kata-kata'. namun sekali lagi, mereka terbentur satu hal. Atom tidak dapat dipecah lagi sehingga menjadi nol... Untuk menjadikannya nol, perlu energi tak terbayangkan, perlu biaya lebih mahal dan usaha lebih ekstrem. sekali lagi NOL sang biang kerok! XD

    Apa mimpi buruk fisika sudah berakhir? Apakah sudah berakhir kekalahan fisika dari angka nol? belum saudara-saudara! goncangan kedua muncul dari Sang Legenda Termasyhur, Einstein! Dengan teori relativitas (terutama teori relativitas umumnya) Einstein telah mengubah takdir fisika selamanya. Sebelumnya para fisikawan dan (sebagian) kaum filsuf berpendapat bahwa alam semesta bersifat konstan alias steady state. Semesta tidak berawal juga tak berakhir. Semesta sudah ada 'sejak dulu'. Tidak ada perubahan, tidak ada penciptaan, tidak ada Tuhan! Edwin Hubble (namanya diabadikan menjadi nama teleskop ruang angkasa paling terkenal) mengamati bahwa jagat raya sedang mengembang. tapi apa artinya? Nah, di sini Einstein memainkan peranannya. Secara mencengangkan dia bisa membuktikan secara matematis (seperti Planck, data hasil rumus sama dengan data percobaan dengan ketelitian mengerikan) bahwa alam semesta itu mengembang! Artinya, jika waktu diputar ke belakang, alam semesta ternyata 'lahir' melalui proses yang dikenal dengan nama Big Bang.

    Alam semesta telah lahir. alam semesta diciptakan. Segalanya memiliki awal. Ada Tuhan.

    Oya, alasan mengapa Einstein digelari jenius terbesar sepanjang masa (semua ikon kata 'jenius' pasti mengacu padanya, mulai dr komik hingga film) adalah berbeda dengan teori kuantum yang hasil keroyokan, teori relativitas lahir, diurus, dan dikembangkan sendirian oleh Einstein! nyaris bantuan dari ilmuwan lain hanya berkonstribusi 'secuil'. Bisa dikatakan karya tunggal Einstein!

    Lantas bagaimana proses penciptaan alam semesta tersebut dimulai? Meski dengan sukses menerangkan proses pengembangan jagat raya, teori relativitas yang canggih itu mentok saat, sekali lagi si biang kerok muncul, teori itu 'runtuh' jika mengukur jagat raya pada waktu (t) sama dengan NOL!!!!

    Belakangan Hawking berusaha memadukan teori relativitas dengan teori kuantum untuk menjelaskan penciptaan jagat raya. Sebelum-sebelumnya, ini ajaibnya, kedua teori super canggih tersebut sama sekali tidak mengalami kecocokan. Seperti teori Wien dan Rayliegh di atas yang tidak ada kecocokannya, kedua teori ini juga sama. Saat alam semesta (yang dapat dipelajari dg relativitas) diciptakan, kan wujud aslinya masih berupa bentuk penyusun atom (yang dipelajari dengan kuantum). seharusnya ada titik temunya kan? Tahun-tahun terakhir hidup Einstein dihabiskan untuk menggeluti titik temu ini yang dia sebut sebagai teori medan gravitasi, sayang sampai meninggal, usaha belum berhasil. 'warisan' Einstein inilah yang menjadi cikal pergolakan intelektual dalam fisika hingga saat ini.

    Tapi ternyata titik temu itu tidak semudah seperti yang diperkirakan. Kemudian Hawking 'dianggap berhasil' memadukan kedua teori tsb (secara keliru teorinya disebut Theory of Everything, TOE, padahal belum 'sempurna' dan tidak dapat menjelaskan segalanya) dengan asumsi yang radikal. Alih-alih menganggap alam semesta lahir pada saat t=0, Hawking dengan matematika canggihnya, 'membuktikan' bahwa ada waktu (t) sebelum t=0 atau yang disebutnya waktu imajiner. Artinya ada waktu sebelum waktu. dengan kata lain, tidak ada awal, tidak ada penciptaan. tidak ada Tuhan. Bisa dikatakan Hawking adalah fisikawan atheis terbesar sepanjang masa.

    Meski teori Hawking belum final, tapi konsekuensi pergolakan fisika ini tak ayal menyeret kaum filsuf dan agamawan. di satu sisi mereka mengklaim ada penciptaan (ada Tuhan), di sisi lain ada klaim tidak ada penciptaan (tidak ada Tuhan). Perdebatan tanpa akhir ini tidak akan mereda sebelum mereka bisa membuktikan, apa yang terjadi saat waktu sama dengan NOL????!!!

    Nol! Nol! Nol! Nol dan sekali lagi, Nol!!!!!!!!!!
    -------------------------------------------------------------------------------------------------------
    Okeh, segituh dulu pelajaran Fisikanya XD

    nah, 'kegilaan' akibat angka Nol inilah yang dibahas dalam buku ini. Yah, meski gak terlalu mendalam, tapi secara lengkap, buku ini merangkum sejarah kelahiran angka nol dan usaha-usaha manusia dalam mengalahkan angka nol.

    Mengapa banyak orang begitu takut pada angka 'sederhana' ini? (banyak pelajar dan mahasiswa takut jika ujian mereka mendapatkan nilai nol XD). Rangkuman usaha pengalahan angka nol inilah yang menjadi tema mendasar buku ini. Begitu panjangnya usaha manusia mengalahkan esensi angka nol ini, namun sejauh ini kita harus mengaku kalah. Hasil yang dicapai bisa dikatakan nol. :-)

    Apakah angka nol bisa dikalahkan?

    Mengapa dalam kesahajaannya angka Nol justru menimbulkan kekompleksitasan yang mencengangkan?

    Apakah angka nol justru merupakan bentuk eksistensi 'Tuhan' sehingga sebegitu dahsyatnya? (Saat membaca buku ini, saya nyaris percaya jika nol adalah Tuhan itu sendiri!)

    Jawabannya ada di buku ini (sebagian :D)

    Udah ah, whhooaaa... capek juga ternyata :-p

    oyah, 'coz latar belakang saia ttg fisika adalah NOL, mohon maap jika ada data/fakta yang diuraikan di atas keliru. yang pernah/sedang menjalani pendidikan di bidang fisika, silakan koreksi.

    cmiiw :)

    ---------------------------------
    PS:

    sejak dulu kala, angka nol memang dianggap 'mengganggu' bahkan oleh para matematikawan sendiri. sebagai contoh, angka nol bisa membuktikan kekacauan hukum berhitung. Contoh populer dicantumin di bawah ini,

    Misal
    a = b
    a^2 = ab
    a^2 + a^2 = a^2 + ab
    2 a^2 = a^2 + ab
    2 a^2 - 2 ab = a^2 - 2 ab + ab
    2 a^2 - 2 ab = a^2 - ab
    2 (a^2 - ab) = 1 (a^2 - ab)
    2 = 1

    Hmmm..... jelas kan, dasar matematika menyatakan 2 tidak sama dengan 1?

    terus ada aturan aritmatika sederhana menyatakan bahwa jika

    a x o = o
    a / o = ~

    mengapa suatu bilangan harus 'mnyerah' saat dibagi dengan angka nol menjadi ketakberhinggaan? Tampaknya, untuk mengalahkan angka nol, kita harus merubah aturan perhitungan di atas. Artinya? Peradaban kita kembali ke titik nol! Arrrrgggghhhhh....... sekali lagi nol! kita kalah lagi oleh angka nol! T,T


     14 people found this review helpful


  • Book Rating 3 out of 5
    Read Reviews on Goodreads

    by Jamie from Brooklyn, NY | May 8, 2007

    Zero is the story of the number, the time that elapsed before its acceptance, and how the ideas behind it (the void and its opposite, infinity) shook the ideals of religion and science across the globe. The book advances through time chronologically, from the Greek philosophers through Renaissance paintings through Einstein's relativity, ending with speculations on string theory. And yes, all of this is fantasia on the theme of the number zero.

    I didn't expect this book to be so math-heavy and sort of resented the reintroduction to the Rule of L'Hopital. But overall I found this to be an enjoyable read. My favorite parts were the discoveries of the old Greek musicians and the artists who moonlighted as math dudes. The first section of the book reminded me of that one Donald Duck cartoon [(http://en.wikipedia.org/wiki/Donald_in_M...)].

    In my opinion, the ideal audience for this book is kids who are just about to take calculus, because Zero makes the math is both applicable and fun. But also an interesting read for adults. Just be warned that part of this book involves a journey back to high school math equations.


     4 people found this review helpful


  • Book Rating 2 out of 5
    Read Reviews on Goodreads

    by Trevor from Melbourne, Victoria, Australia | Oct 18, 2009

    I’m not sure if this book quite worked out what it wanted to be. Besides getting to say, ‘and that is the power of zero’, over and over again it wasn’t quite sure where it should pitch itself and the guy writing it was never quite certain how much back knowledge he could rely on his audience actually having. This meant subjects were generally treated too cursory so I was left thinking ‘wait a second, what happened there?’. His discussion of Gauss was very complicated and hard to follow (not nearly as interesting as Euclid's Window The Story of Geometry from Parallel Lines to Hyperspace – A book I mentally compared this to throughout) but then, bizarrely, he went into a fairly detailed description of the Doppler effect, for instance. This book would have benefited from being edited by someone who knew virtually nothing about science. And they could have written on the sides of the page either ‘oh, I see’ or ‘WTF?’

    There are many interesting little bits to all this that made it worthwhile, though – the stuff on Pythagoras was interesting – I didn’t know he didn’t eat beans because they make people fart and because they look like little genitals (I’ve never really looked closely enough at beans to notice this resemblance, to be honest, but it does sound as good a reason for a food aversion as any other, I guess). I also didn’t know he was killed because he refused to cross a field of beans (makes my rantings about only going into McDonalds to use their toilets – I only make deposits, no withdrawals - sound perfectly enlightened, if you ask me).

    There were also interesting bits about vanishing points being zeros and therefore the relationship between space and zero being something non-trivial – but all of that stuff is handled much more interestingly in The Pearly Gates of Cyberspace A History of Space from Dante to the Internet (even if I still have problems with the last bits of that book).

    Look, it wasn’t a bad book – but I felt it struggled due to feeling it had to make zero the core concept of all of science. This is a trend in this sort of book – you know, pick something (nutmeg or coffee or space) and show it as the nexus through which all strands of the universe can be understood. Generally, this is handled better than it has been handled here though.

    PS - I hadn't realised this is the same guy who wrote Decoding the Universe How the New Science of Information Is Explaining Everything in the Cosmos, from Our Brains to Black Holes - suddenly, things make much more sense.


     3 people found this review helpful


  • Book Rating 4 out of 5
    Read Reviews on Goodreads

    by Tim from The United States | Feb 25, 2009

    Seife, a science writer, leads us down the rabbit hole we term 'zero'. The mathematical history of the number follows a convoluted path, early on a place-holder in counting systems or a much-feared void forbidden by belief on pain of death. Eventually the path leads to infinity which, like its twin zero, figures the limit of human experience. For Seife this means that nature - described in its native language of mathematics - breaks completely with possible human experience at zero and infinity. Yet the need to confront these limits and by increments bring them within the space of the humanly possible is the impulse behind this book. Short as it is, the first two thirds of the work provide an engaging survey of the development and application of 'zero' in mathematics. A substantial part of its current conception is bound up in the development of the calculus which underlies so much of mathematical physics. Relativity theory and the development of thermodynamics spurred further application of the concept in theories of nature. Nonetheless, singularities represent limits to what we know and perhaps can know, as well as what we can do. Zero's enigmatic presence in our thoughts is a gateway to the speculative, sometimes nearly mystical suppositions in a scientific vein that take up the final third of the work. Zero, in Seife's account, is a main character in a story about mathematics and physical science. But his account of the concept as an artifact of culture and of language may offer some additional insight. For example, in common English usage, zero is nothing apart from comparison. The activity of comparing and by extension of measuring is part of this odd number which happens to be even.


     2 people found this review helpful


  • Book Rating 4 out of 5
    Read Reviews on Goodreads

    by David from The United States | Feb 1, 2009

    This book made me want to actually learn calculus. At least until the brain fever wore off. :)


     2 people found this review helpful


Place Order



$5.98
(Used, Paperback, Good)

Labor Day Sale!  4 for $10

Staff Picks

taff picks: New and used, from best-selling titles to best-kept secrets out of the corners of our warehouse, Better World employees share what’s on their night table. > View More Staff Picks (rss)

Jon's Pick

Grave Peril (The Dresden Files, Book 3)
by Butcher, Jim

Sam Spade meets Gandalf in some of the most fun modern genre fiction out there!